Unsri dan CIFOR Uji Pengembangan Nyamplung sebagai Tanaman Restorasi dan Sumber Energi Nabati di Lahan Gambut OKI
Nyamplung merupakan salah satu jenis tanaman yang memiliki potensi untuk mendukung optimalisasi lahan gambut sekaligus menjadi sumber energi nabati. Tanaman ini memiliki sejumlah keunggulan, antara lain menghasilkan buah dalam jumlah banyak, dapat berbuah sepanjang tahun, memiliki kandungan minyak sekitar 30 hingga 74 persen, serta menghasilkan limbah yang masih dapat didaur ulang.
Selama ini, nyamplung lebih dikenal sebagai tanaman hutan yang tumbuh di tanah mineral maupun kawasan pesisir pantai, antara lain untuk membantu menahan angin. Pemanfaatannya di lahan gambut masih tergolong baru. Di Sumatera Selatan, tanaman ini mulai diujicobakan pada lahan gambut di Desa Peringgi Talang Nangka, Kecamatan Pangkalan Lampam, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).
Salah satu lahan yang menjadi lokasi pengembangan tersebut merupakan milik Haji Nungcik, warga setempat. Lahan seluas tiga hektare itu pernah mengalami kebakaran pada 1997 dan kembali terbakar pada 2015. Sebelum pengembangan tanaman nyamplung, lahan tersebut dimanfaatkan untuk menanam padi sonor atau padi semai yang hanya dapat dipanen satu kali dalam setahun.
Bagi masyarakat setempat, padi sonor menjadi salah satu sumber produksi utama di kawasan gambut. Dalam kondisi tertentu, satu hektare lahan dapat menghasilkan sekitar 3 hingga 4 ton beras. Namun, hasil panen sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Sebagian hasil produksi digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sedangkan sisanya dijual.
Selain menanam padi, masyarakat juga memanfaatkan tanaman purun untuk menghasilkan tikar dan berbagai kerajinan lainnya. Tikar purun umumnya dijual dengan harga sekitar Rp60.000 per lembar. Meski demikian, pilihan pemanfaatan lahan gambut masih terbatas. Nungcik menjelaskan bahwa masyarakat selama ini hanya mengandalkan penanaman padi dan pemanfaatan purun sebagai sumber nilai ekonomi dari lahan tersebut.
Keterbatasan pengetahuan mengenai pengelolaan lahan gambut mendorong Nungcik untuk terlibat dalam program penelitian Universitas Sriwijaya (Unsri) bersama Center for International Forestry Research (CIFOR). Melalui penelitian tersebut, masyarakat diperkenalkan dengan berbagai jenis tanaman kehutanan, seperti belangeran (Shorea balangeran), jelutung (Dyera lowii), bintaro (Cerbera manghas), meranti rawa (Shorea pauciflora), perepat (Combretocarpus rotundatus), dan medang maras (Blumeodendron kurzii).
Salah satu tanaman yang baru dikenal Nungcik melalui program tersebut adalah nyamplung. Tanaman ini tidak hanya memiliki manfaat ekologis, tetapi juga berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber bahan bakar nabati. Selain menanam nyamplung, Nungcik juga mengembangkan kolam ikan di lahannya. Ikan yang dibudidayakan meliputi lele serta jenis ikan yang sesuai dengan kondisi perairan gambut, seperti tembakang, betok, dan gabus.
Pengelolaan kolam di lahan gambut memerlukan perlakuan khusus, terutama untuk mengendalikan tingkat keasaman air. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menambahkan senyawa kapur agar kondisi air tidak terlalu asam. Pengelolaan tanaman juga membutuhkan penyesuaian, seperti membuat gundukan sebagai tempat penanaman dan mengatur ketinggian lokasi tanam untuk nyamplung maupun tanaman lainnya.
Sumantri, seorang pegiat komunitas gambut yang turut mendampingi Nungcik, menyebutkan bahwa lahan tersebut menjadi satu-satunya lokasi percontohan pengembangan nyamplung di Desa Peringgi Talang Nangka. Keberadaan lokasi percontohan ini mulai menarik perhatian masyarakat terhadap berbagai kemungkinan pemanfaatan lahan gambut. Ke depan, pengembangan tanaman direncanakan mencakup kombinasi nyamplung dengan mangga serta pemanfaatan nyamplung untuk mendukung produksi madu.
Nyamplung untuk Restorasi Gambut dan Energi Nabati
Menurut Yustina Artati, peneliti CIFOR, pengenalan nyamplung di lahan gambut pada awalnya bertujuan mengoptimalkan lahan yang kerap mengalami kebakaran. Pengembangan tanaman ini menjadi bagian dari upaya restorasi untuk meningkatkan produktivitas lahan terdegradasi sekaligus mencegah kebakaran hutan dan lahan.
Nyamplung merupakan komoditas baru yang diperkenalkan kepada masyarakat Sumatera Selatan, khususnya untuk pengembangan di kawasan gambut. Sebelumnya, masyarakat lebih mengenal tanaman musiman seperti padi dan tanaman buah. Berbeda dengan tanaman tersebut, nyamplung merupakan tanaman berkayu yang termasuk kelompok tanaman kehutanan.
Uji coba pengembangan nyamplung di lahan gambut juga telah dilakukan di Kalimantan. Salah satu lokasi penelitian berada di Desa Buntoi, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Di kawasan tersebut, tanaman nyamplung dikembangkan bersama tanaman bioenergi lainnya, seperti kemiri sunan, kaliandra, dan gamal. Nyamplung juga ditanam di Kalampangan, Palangka Raya.
Berdasarkan hasil penanaman sejak 2016 di Kalimantan, nyamplung mampu bertahan hidup di lahan gambut dengan tingkat keberhasilan hidup (survival rate) mencapai 90 persen. Hasil tersebut menunjukkan bahwa nyamplung memiliki potensi untuk tumbuh dengan baik di ekosistem gambut.
Sementara itu, benih nyamplung yang digunakan di Desa Peringgi Talang Nangka berasal dari Dompu, Nusa Tenggara Barat. Benih tersebut berbeda dengan nyamplung yang sebelumnya dikembangkan di Kalimantan. Penanaman nyamplung di lokasi ini dimulai pada awal 2018 bersama delapan varietas tanaman hutan lainnya. Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi jenis tanaman yang sesuai bagi pemulihan lahan gambut, mengingat karakteristik gambut yang memiliki kandungan unsur hara relatif rendah. Berdasarkan pengalaman penanaman di Kalimantan, nyamplung membutuhkan waktu lebih dari tiga tahun sebelum mulai berbunga dan berbuah.
Selain berpotensi mendukung restorasi gambut, nyamplung juga dapat diolah menjadi bahan bakar nabati atau biofuel. Budi Leksono, Peneliti Ahli Utama Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPBPTH), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, menjelaskan bahwa nyamplung memiliki potensi sebagai sumber energi nabati di Indonesia.
Keunggulan tanaman ini terletak pada produktivitas buah yang tinggi, kemampuan berbuah sepanjang tahun, serta potensi kandungan minyak sekitar 30 hingga 74 persen. Selain itu, limbah hasil pengolahannya masih dapat dimanfaatkan kembali. Di Sumatera Selatan, pengembangan nyamplung di lahan gambut yang pernah terbakar dan terdegradasi dilakukan untuk mendukung pemulihan lahan sekaligus mengkaji potensi pemanfaatan lainnya.
Dengan demikian, pengembangan nyamplung di Desa Peringgi Talang Nangka menjadi salah satu upaya mengintegrasikan restorasi ekosistem gambut dengan potensi pemanfaatan ekonomi dan energi terbarukan. Tanaman ini diharapkan dapat menjadi alternatif pemanfaatan lahan gambut yang lebih produktif tanpa mengabaikan keberlanjutan lingkungan.
Berita Terbaru
