Unsri dan Lembaga Riset Korea Perkuat Riset Restorasi Gambut Tropis di Sumsel
Komitmen pemulihan lahan gambut terdegradasi di Sumatera Selatan terus diperkuat. Pusat Unggulan Konservasi dan Peningkatan Produktivitas Gambut dan Mangrove Universitas Sriwijaya (CoE PLACE Unsri) bersama National Institute of Forest Science (NIFoS) Korea Selatan sepakat memperpanjang kolaborasi riset untuk restorasi gambut berkelanjutan.
Sinergi lintas negara ini merupakan kelanjutan dari Nota Kesepahaman (MoU) 2023 dan Perjanjian Penelitian Bersama yang diteken pada 2024. Memasuki tahun 2025, kedua lembaga fokus pada tiga pilar utama riset, yakni pemulihan vegetasi melalui regenerasi alami dan buatan, kajian dinamika hidro-klimatologis di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) yang terdampak anomali iklim seperti El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD), serta asesmen lapangan untuk stok karbon.
Memasuki 2026, agenda kolaborasi ditingkatkan menjadi lima program prioritas. Pertama, penyusunan persamaan allometrik spesifik untuk tiga spesies kunci lahan gambut, yaitu Gelam, Jelutung, dan Blangeran guna mengukur biomassa secara presisi. Kedua, evaluasi daya hidup dan pertumbuhan pohon dengan membandingkan metode regenerasi alami, restorasi berbasis kehutanan, dan sistem agroforestri.
Ketiga dan keempat, kedua institusi akan melakukan analisis aliran gas rumah kaca dan estimasi penyimpanan karbon ekosistem, dengan mengukur fluks karbon dioksida (CO2) dan metana (CH4) pada berbagai kondisi hidrologis. Termasuk menghitung cadangan karbon pada biomassa atas dan bawah tanah, serasah, hingga kayu mati. Kelima, penilaian keanekaragaman hayati yang mencakup komunitas tumbuhan, serangga, dan mikroba untuk memetakan ketahanan ekosistem.
Langkah ini dinilai krusial, mengingat Sumsel masih menghadapi ancaman serius berupa degradasi gambut, drainase berlebihan, kekeringan ekstrem, hingga kebakaran berulang yang menggerus fungsi ekologi dan ekonomi masyarakat.
Tidak hanya di level laboratorium, riset ini juga diimplementasikan langsung di tapak. Di Desa Perigi, Kecamatan Pangkalan Lampam, OKI, tim CoE PLACE Unsri menerapkan model agrosilvofishery cerdas iklim. Model ini mengintegrasikan penanaman pohon dengan komoditas pertanian dan perikanan yang adaptif
Sejauh ini, sekitar 12 hektare lahan telah dikembangkan bersama 11 petani lokal dengan penanaman pohon dan buah-buahan. Hasil awal menunjukkan antusiasme petani cukup tinggi dalam upaya pencegahan kebakaran. Meski demikian, tim peneliti menegaskan pemantauan jangka panjang tetap diperlukan untuk melihat dampak ekologis dan ekonomi secara komprehensif.
Sementara itu, Living Labs seluas 3 hektare juga dibangun di lahan arboretum Kampus Unsri Indralaya. Pada 2025, seluas 5.200 meter persegi telah disiapkan sebagai laboratorium alam terpadu untuk mengkaji vegetasi, tanah, air, biodiversitas, dan karbon. Di lokasi ini, perbandingan dilakukan antara regenerasi alami dengan penanaman spesies asli seperti Jelutung (Dyera polyphylla) dan Belangeran
Berita Terbaru
