Instalasi Air Bersih dan Siap Minum Inovasi Mahasiswa, Penuhi Kebutuhan Warga Kampung Landuh Aceh Tamiang
Tim pelaksana Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Sriwijaya (Unsri) menunjukkan kontribusi mahasiswa dalam membantu pemulihan masyarakat pascabencana melalui inovasi teknologi tepat guna. Melalui Program Mahasiswa Berdampak yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), mahasiswa menghadirkan solusi penyediaan air bersih sekaligus mendorong pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.
Pada Rabu, 25 Februari 2026, tim mahasiswa Unsri memperkenalkan instalasi pengolahan air bersih dan siap minum bagi masyarakat Kampung Landuh, Aceh Tamiang. Sebanyak dua unit teknologi pengolahan air diserahkan untuk mendukung kebutuhan Kelompok Tani Ladang Lestari Kampung Landuh. Masing-masing unit memiliki kapasitas pengolahan hingga 2.000 galon per hari.
Instalasi tersebut menggabungkan teknologi adsorpsi dan membran ultrafiltrasi. Air baku yang berasal dari sungai atau sumur terlebih dahulu melewati tabung adsorben yang berisi karbon aktif, manganese greensand, dan silika teraktivasi. Selanjutnya, air disaring menggunakan membran dengan pori-pori sangat halus untuk memisahkan berbagai partikel dan kontaminan.
Dosen Pembimbing Tim Mahasiswa Berdampak Unsri, David Bahrim, menjelaskan bahwa inovasi tersebut dikembangkan sebagai solusi atas terbatasnya akses masyarakat terhadap air yang layak dikonsumsi setelah bencana. Kondisi sumur air permukaan yang tercemar serta kualitas air dengan tingkat pH dan total dissolved solids (TDS) yang tinggi menjadi permasalahan yang perlu ditangani.
Melalui teknologi pengolahan tersebut, tim berharap masyarakat memperoleh akses air yang lebih layak dan terbantu dalam memenuhi kebutuhan air minum sehari-hari.
Koordinator Program Mahasiswa Berdampak Unsri, Dandi Dwi Wiradinata, menjelaskan bahwa teknologi ultrafiltrasi membran dapat menyaring partikel tersuspensi, bakteri, virus, hingga koloid tanpa memerlukan tambahan bahan kimia. Sistem ini bekerja dengan memanfaatkan tekanan pompa untuk mengalirkan air melalui membran sintetis berbahan polimer. Proses pengolahan kemudian diperkuat dengan penggunaan lampu ultraviolet.
Menurut Dandi, teknologi tersebut diharapkan menghasilkan air yang aman untuk dimanfaatkan masyarakat, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun pertanian. Ia juga menceritakan bahwa ketika instalasi mulai dioperasikan, warga langsung berdatangan dan mengantre untuk memperoleh air bersih. Air hasil pengolahan kemudian dimanfaatkan untuk minum, mencuci, dan berbagai kebutuhan sehari-hari lainnya.
Selain kemampuan pengolahannya, instalasi ini memiliki sejumlah keunggulan, antara lain proses operasional yang berkelanjutan, penggunaan energi yang efisien, serta perawatan yang relatif mudah. Sistem tersebut juga berpotensi dikembangkan dalam kapasitas yang lebih besar. Penggunaan bahan adsorben yang dapat diproduksi oleh usaha kecil lokal turut membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Teknologi pengolahan air serupa disebut telah diterapkan di lebih dari 30 lokasi di Sumatera Selatan, termasuk lingkungan sekolah dan industri kecil.
Masyarakat Kampung Landuh menyampaikan apresiasi atas bantuan dan pendampingan yang diberikan oleh mahasiswa Unsri. Selain menghadirkan instalasi air bersih, mahasiswa juga terlibat dalam sejumlah kegiatan pemulihan pascabanjir, seperti membersihkan polindes yang sebelumnya dipenuhi lumpur hingga dapat digunakan kembali serta menanam tanaman obat keluarga.
Warga menilai rangkaian kegiatan tersebut memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang sedang berupaya memulihkan kondisi desa setelah bencana.
Sebelumnya, pada 19–21 Desember 2025, mahasiswa BEM Unsri juga melaksanakan aksi kemanusiaan di wilayah terdampak banjir di Pasaman Barat dan Padang, Sumatera Barat. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa menyalurkan bantuan kebutuhan dasar berupa sembako dan pakaian bersih. Mereka turut berkoordinasi dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk membantu memastikan distribusi bantuan logistik berlangsung aman dan tepat sasaran.
Melalui Program Mahasiswa Berdampak, mahasiswa Unsri tidak hanya memberikan bantuan langsung, tetapi juga berupaya membangun kemandirian masyarakat. Kelompok tani setempat didorong untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan teknis dalam mengoperasikan serta mengelola instalasi pengolahan air bersih.
Dengan demikian, program ini diharapkan tidak berhenti pada penyediaan fasilitas, tetapi juga memberikan bekal kepada masyarakat agar mampu mengelola teknologi tersebut secara mandiri dan berkelanjutan.
Latest News
Upacara Peringatan Dies Natalis ke-66 Universitas Sriwijaya
Tim PKM Unsri Lakukan Pendampingan ke UMKM Jumputan Desa Ulak Bedil
Unsri Edukasi Masyarakat Desa Tanjung Enim dan Kembangkan Aplikasi EDUMAL untuk Dukung Eliminasi Malaria
Universitas Sriwijaya melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat di Desa Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, pada 2024 untuk mendukung eliminasi malaria di Sumatera Selatan. Program ini mencakup edukasi kesehatan, pelatihan pencegahan dan pengendalian malaria, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan aplikasi mobile EDUMAL sebagai sarana edukasi. Kegiatan melibatkan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan sebagai mitra.
