Radar Sriwijaya (Musi Rawas) – Konservasi dan pengembangan potensi durian lokal terus didorong melalui peningkatan kemampuan masyarakat di kawasan Perhutanan Sosial. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sriwijaya, didukung oleh Pertamina, menggelar Pelatihan Konservasi Durian Lokal dengan metode sambung pucuk bagi anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Wana Manunggal di Bukit Cogong, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, pada Kamis, 1 Oktober 2026.
Pelatihan ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan pendampingan pengelolaan Perhutanan Sosial di KTH Wana Manunggal. Program tersebut disusun untuk memperluas pengetahuan dan meningkatkan keterampilan anggota kelompok dalam melestarikan serta mengembangkan durian lokal melalui teknik perbanyakan tanaman yang dapat dipraktikkan secara langsung.
Rangkaian acara dibuka oleh pembawa acara Fanessa Wasty S., kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa dan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dipimpin oleh dirigen Athalia Ardelle. Ketua Pelaksana, Singgih Tri Wardana, S.Si., M.Si., menyampaikan sambutan sebelum dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan Pertamina Foundation.
Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Edi Cahyono, S.Hut., M.Si., selaku Kepala UPTD KPH Wilayah XIII Lakitan–Bukit Cogong; Anisa Shalsabila dan Dave Hapien Indrianto sebagai perwakilan Pertamina Foundation; Senior Manager PT Pertamina EP Pendopo Field; serta pengurus Desa Sukakarya.
Keterlibatan berbagai pihak ini mencerminkan sinergi antara perguruan tinggi, sektor usaha, pengelola kawasan, dan masyarakat dalam mewujudkan pengelolaan Perhutanan Sosial yang berkelanjutan.
Pada sesi pemaparan materi, Yadi Oktariansyah, S.Si., M.Si., menjelaskan eksplorasi karakter morfologi dan DNA durian Bukit Cogong serta pemetaan persebaran durian lokal. Materi tersebut menyoroti pentingnya pendataan, identifikasi karakter, dan pemetaan sumber daya genetik durian sebagai bagian dari upaya pelestarian.
Informasi mengenai ciri morfologi, karakter DNA, dan persebaran tanaman dapat menjadi landasan untuk mengenali potensi genetik durian lokal di kawasan Bukit Cogong. Dengan pendekatan tersebut, pengelolaan dan pemanfaatan durian lokal diharapkan dapat dilakukan secara lebih terarah.
Selanjutnya, Kustanto, S.P., memberikan materi utama mengenai teknik sambung pucuk durian. Metode ini merupakan teknik perbanyakan vegetatif yang memungkinkan karakter tanaman induk dipertahankan sekaligus mendukung pengembangan tanaman durian secara lebih cepat dan terencana.
Penyampaian materi dilakukan secara praktis, mencakup pemilihan bahan tanaman, persiapan batang bawah dan entres, proses penyambungan, hingga pemeliharaan tanaman setelah penyambungan dilakukan.
Setelah demonstrasi, para peserta mengikuti diskusi dan praktik secara langsung. Anggota KTH Wana Manunggal menunjukkan antusiasme dalam mempelajari tahapan sambung pucuk yang diperagakan oleh narasumber. Mereka juga aktif mengajukan pertanyaan dan membahas berbagai kendala teknis yang berpotensi muncul ketika metode tersebut diterapkan di lapangan.
Sesi praktik menjadi bagian penting dari pelatihan karena memberikan kesempatan kepada peserta untuk mencoba sendiri teknik perbanyakan vegetatif, bukan hanya memahami penjelasannya secara teori.
Partisipasi aktif para anggota kelompok menjadi salah satu tanda positif dari pelaksanaan kegiatan tersebut. Selain menjadi sarana berbagi pengetahuan, pelatihan ini juga membuka ruang interaksi antara akademisi, praktisi, pengelola kawasan, dan masyarakat untuk bertukar pandangan mengenai pengembangan durian lokal di wilayah Perhutanan Sosial.
Melalui pelatihan ini, anggota KTH Wana Manunggal diharapkan mampu menerapkan keterampilan sambung pucuk secara mandiri untuk memperbanyak dan mengembangkan durian lokal di kawasan yang mereka kelola. Pengetahuan mengenai karakteristik dan persebaran durian yang dipadukan dengan kemampuan perbanyakan tanaman diharapkan dapat mendukung konservasi sekaligus meningkatkan potensi durian lokal Bukit Cogong.
Kegiatan tersebut juga merupakan bagian dari pendampingan pengelolaan Perhutanan Sosial yang lebih menyeluruh. Peningkatan kapasitas masyarakat dinilai penting agar pengelolaan kawasan tidak hanya menitikberatkan pada pemanfaatan sumber daya, tetapi turut menjaga keberlanjutan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya.
Sinergi antara LPPM Universitas Sriwijaya, Pertamina, KTH Wana Manunggal, UPTD KPH Wilayah XIII Lakitan–Bukit Cogong, PT Pertamina EP Pendopo Field, dan Pemerintah Desa Sukakarya diharapkan dapat berlanjut melalui program pendampingan serta kegiatan peningkatan keterampilan masyarakat di masa mendatang.