Skip to main content
Tim PKM Teknik Mesin Unsri Perkenalkan Mesin Pengolah Limbah Botol Plastik Menjadi Filamen Printer 3D kepada Masyarakat Karang Jaya

Pengabdian

Tim PKM Teknik Mesin Unsri Perkenalkan Mesin Pengolah Limbah Botol Plastik Menjadi Filamen Printer 3D kepada Masyarakat Karang Jaya

Tim LPPM 4

Penggunaan plastik yang semakin luas dalam kehidupan sehari-hari telah menimbulkan persoalan lingkungan karena limbahnya sulit terurai secara alami. Sampah plastik yang dibuang ke laut dapat mengancam kehidupan biota laut dan merusak ekosistem. Sementara itu, sampah yang menumpuk di sungai berpotensi menyumbat saluran air dan menyebabkan banjir. Limbah plastik yang berserakan di tanah juga dapat mengganggu sirkulasi udara dan air serta menurunkan kesuburan tanah.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, berbagai metode pengolahan limbah plastik telah diperkenalkan kepada masyarakat. Namun, nilai jual hasil pengolahan tersebut umumnya masih relatif rendah. Salah satu alternatif yang dapat meningkatkan nilai ekonomis limbah plastik adalah mengolah botol plastik bekas menjadi filamen untuk bahan baku printer 3D.

Inisiatif tersebut diperkenalkan oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Skema Perkuliahan Desa dari Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya. Tim yang diketuai oleh Dr. Ir. Diah Kusuma Pratiwi, M.T., CIAP, bersama Akbar Teguh Prakoso, S.T., M.T., dan M.A. Ade Saputra, S.T., M.T., M.Kom., melaksanakan kegiatan sosialisasi pengolahan limbah botol plastik menjadi filamen printer 3D untuk mendukung industri kreatif. Kegiatan tersebut berlangsung pada Jumat (29/9) di Kelurahan Karang Jaya, Kecamatan Gandus, Palembang.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat diperkenalkan dengan teknologi mesin ekstrusi atau ekstruder yang berfungsi mengubah limbah botol plastik menjadi filamen printer 3D. Prosesnya dimulai dengan menghancurkan botol plastik menjadi potongan-potongan kecil. Selanjutnya, potongan tersebut dimasukkan ke dalam mesin melalui bagian hopper, kemudian didorong menggunakan motor screw menuju ruang pemanasan. Plastik yang telah dilelehkan akan dikeluarkan melalui nozzle dalam bentuk filamen dengan ukuran yang sesuai untuk kebutuhan printer 3D.

Filamen yang dihasilkan dapat digunakan sebagai bahan baku untuk mencetak berbagai objek tiga dimensi, mulai dari komponen mesin hingga produk kerajinan dan suvenir yang memiliki nilai ekonomi.

Ketua Tim PKM, Diah Kusuma Pratiwi, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari program tahunan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sriwijaya yang didanai melalui Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Teknologi yang diperkenalkan kepada masyarakat merupakan hasil penelitian yang dikembangkan oleh Akbar Teguh Prakoso bersama timnya.

Menurut Diah, hasil penelitian tersebut tidak hanya ditujukan untuk pengembangan teknologi, tetapi juga diharapkan dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Limbah botol plastik yang sebelumnya memiliki nilai jual rendah dapat diolah menjadi produk yang lebih bernilai, bahkan berpotensi menembus pasar ekspor. Produk hasil cetak 3D juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, seperti komponen mesin dan suvenir.

Ia menambahkan bahwa mesin ekstrusi yang diperkenalkan memiliki biaya pembuatan relatif terjangkau, yakni tidak sampai Rp1 juta. Apabila masyarakat menunjukkan ketertarikan, pihaknya berencana mengembangkan desa binaan khusus pada tahun berikutnya. Program tersebut diharapkan dapat mendorong terbentuknya UMKM yang berkelanjutan dan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan pendapatan masyarakat.

Diah juga menyampaikan bahwa masyarakat mulai menunjukkan ketertarikan terhadap teknologi tersebut. Meskipun masih membutuhkan pelatihan untuk mengoperasikannya, generasi muda dari kalangan siswa SMA dan SMK dinilai memiliki potensi untuk dilibatkan dalam pengembangan keterampilan tersebut.

Anggota tim, Akbar Teguh Prakoso, menjelaskan bahwa mesin ekstrusi tersebut berfungsi mengubah limbah botol plastik menjadi filamen atau tali plastik yang digunakan sebagai bahan baku mesin cetak 3D. Selanjutnya, filamen tersebut dapat diproses menjadi berbagai objek tiga dimensi yang berpotensi dikembangkan sebagai karya seni maupun produk bernilai ekonomi. Mesin tersebut telah dikembangkan sekitar tiga hingga empat bulan sebelum kegiatan sosialisasi, yakni sekitar Juni 2023.

Akbar mengungkapkan bahwa teknologi mesin ekstrusi sebenarnya telah banyak digunakan di luar negeri, tetapi penerapannya di Indonesia masih relatif terbatas. Bahkan, menurutnya, Universitas Sriwijaya merupakan institusi yang telah menggunakan teknologi tersebut di wilayah Sumatera Selatan. Pengembangan alat ini bertujuan meningkatkan nilai ekonomis limbah botol plastik yang selama ini dijual dengan harga rendah.

Berdasarkan informasi yang diperoleh tim dari pemulung dan pengumpul botol plastik, harga botol plastik bekas hanya sekitar Rp2.000 per kilogram. Padahal, melalui proses pengolahan yang tepat, limbah tersebut dapat menghasilkan produk dengan nilai jual jauh lebih tinggi. Sebagai contoh, satu botol plastik dapat diolah menjadi karya seni seperti vas bunga yang berpotensi dijual hingga Rp200.000.

Meski demikian, Akbar mengakui bahwa penerapan teknologi tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan. Proses pengolahan membutuhkan teknologi dan keterampilan khusus, sehingga diperlukan komunitas atau kelompok masyarakat yang dapat mendukung keberlanjutan kegiatan. Adapun harga satu unit mesin ekstrusi diperkirakan berkisar antara Rp400.000 hingga Rp1 juta.

Ketua RT 10, Neli Yana, menyambut positif kegiatan sosialisasi tersebut. Menurutnya, program ini memberikan wawasan baru bagi masyarakat setempat, terutama karena sebagian besar warga di lingkungan tersebut bekerja sebagai pemulung atau mengumpulkan botol plastik bekas. Ia berharap pengetahuan yang diperoleh dapat mendorong warga untuk mencoba mengolah limbah plastik menjadi produk yang lebih bermanfaat dan memiliki nilai jual.

Kegiatan pengabdian masyarakat yang dipusatkan di Mushola Daud Marwah dan diikuti warga Jalan Lettu Karim Kadir RT 10 dan RT 20, RW 02, Kelurahan Karang Jaya ini diharapkan menjadi langkah awal dalam mengembangkan pemanfaatan limbah plastik berbasis teknologi. Melalui pengenalan mesin ekstrusi, Universitas Sriwijaya berupaya menghubungkan hasil penelitian perguruan tinggi dengan kebutuhan masyarakat sekaligus membuka peluang pengembangan industri kreatif dan peningkatan ekonomi lokal.

Share

Sriwijaya University Logo
LPPM

Universitas Sriwijaya

Institute for Research and Community Service Universitas Sriwijaya

Quick Links

More Links

Follow Us

Contact information is not available yet

© 2026 LPPM Sriwijaya University. All rights reserved.