Langsung ke konten utama
UNSRI Kenalkan Pemanfaatan Biji dan Daun Kelor untuk Penjernihan Air dan Pengembangan Camilan Bergizi di Desa Sungai Rebo

Pengabdian

UNSRI Kenalkan Pemanfaatan Biji dan Daun Kelor untuk Penjernihan Air dan Pengembangan Camilan Bergizi di Desa Sungai Rebo

Tim LPPM 4
SDG 22Tanpa KelaparanSDG 33Kehidupan Sehat dan SejahteraSDG 66Air Bersih dan Sanitasi LayakSDG 88Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan EkonomiSDG 1212Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab
Kembali ke Berita0 kali dibaca

Universitas Sriwijaya (UNSRI) melaksanakan dua kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di Desa Sungai Rebo, Kecamatan Banyuasin I, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, pada Minggu, 6 September 2026. Kegiatan yang melibatkan 50 warga ini memperkenalkan pemanfaatan tanaman kelor untuk membantu menjernihkan air baku sekaligus mengembangkan produk makanan bernilai gizi.

Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui dua sesi utama. Sesi pertama membahas teknologi penjernihan air baku menggunakan tepung biji kelor, sedangkan sesi kedua mengajak masyarakat mempraktikkan pengolahan daun kelor menjadi camilan sehat. Pelaksanaan kegiatan turut didampingi oleh Ardiansyah, S.H., M.SE., Arahman Zuhdi, dan Samsuri selaku pengurus di Desa Sungai Rebo.

Penjernihan Air Baku Menggunakan Tepung Biji Kelor

Pada sesi pertama, tim UNSRI memperkenalkan metode koagulasi-flokulasi dengan memanfaatkan tepung biji kelor sebagai bahan koagulan untuk membantu meningkatkan kualitas air baku. Materi disampaikan oleh Dr. Budi Santoso, S.T., M.T., bersama tim.

Dr. Budi menjelaskan bahwa kekeruhan air umumnya disebabkan oleh partikel-partikel halus yang tersuspensi dan sulit mengendap secara alami. Melalui proses koagulasi-flokulasi, bahan koagulan ditambahkan agar partikel-partikel tersebut saling berikatan dan membentuk gumpalan atau flok yang selanjutnya dapat mengendap.

Pada biji kelor, proses tersebut dibantu oleh kandungan protein bermuatan positif yang dapat menempel pada partikel dan menetralkan muatannya. Tim UNSRI memilih tepung biji kelor karena bahan tersebut relatif mudah ditemukan dan tanaman kelor dapat tumbuh di berbagai lingkungan.

Dalam kegiatan tersebut, tim melakukan uji coba menggunakan air baku yang biasa dimanfaatkan warga dan sebelumnya memiliki kualitas yang kurang baik. Hasil demonstrasi menunjukkan bahwa tepung biji kelor mampu membantu menjernihkan air tersebut.

Meskipun demikian, Dr. Budi mengingatkan bahwa air yang telah terlihat jernih belum tentu aman untuk langsung diminum. Pengujian laboratorium terhadap koagulan turunan kelor memang menunjukkan penurunan tingkat kekeruhan lebih dari 94 persen, dengan kemampuan yang disebut setara tawas. Namun, air hasil pengolahan masih dapat mengandung sisa bahan organik dalam jumlah cukup tinggi. Oleh sebab itu, air tetap perlu melalui proses penyaringan dan perebusan sebelum dikonsumsi.

Kelor Bites, Inovasi Camilan Berbahan Daun Kelor

Setelah membahas pengolahan air, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan Kelor Bites atau Healthy Moringa Cookies. Produk ini merupakan camilan berukuran mini yang menggunakan daun kelor sebagai bahan utama.

Sesi tersebut dipandu oleh Ir. Rizka Wulandari Putri, S.T., M.T. Peserta diperkenalkan pada tahapan pembuatan produk, mulai dari mengolah daun kelor menjadi tepung, menakar bahan, mencetak adonan, hingga memanggang cookies.

Pemanfaatan daun kelor dipilih karena tanaman ini mengandung sejumlah zat gizi, di antaranya vitamin A dan E, kalsium, magnesium, serta zat besi. Dalam pemaparannya, tim juga menyampaikan hasil penelitian di Afrika Selatan yang melaporkan bahwa camilan anak dengan tambahan satu persen tepung daun kelor memiliki kandungan protein dan mineral lebih tinggi dibandingkan camilan tanpa tambahan kelor.

Bentuk mini cookies dipilih karena dinilai praktis, tahan disimpan, dan umumnya disukai anak-anak. Dengan pengolahan tersebut, daun kelor diharapkan dapat dikonsumsi dalam bentuk yang lebih bervariasi, tidak hanya sebagai sayuran.

Selama demonstrasi berlangsung, warga mengikuti setiap tahapan pembuatan dengan antusias, mulai dari proses pencetakan adonan hingga mencicipi hasil olahan.

Pemanfaatan Kelor untuk Kebutuhan Masyarakat

Selain memberikan edukasi dan praktik pengolahan, tim UNSRI juga menyerahkan bibit kelor kepada masyarakat Desa Sungai Rebo. Penyerahan tersebut diharapkan dapat mendukung pemanfaatan tanaman kelor secara berkelanjutan di lingkungan desa.

Ardiansyah, S.H., M.SE., menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menilai kedua program yang diperkenalkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, khususnya dalam upaya meningkatkan kualitas air dan pemenuhan gizi. Ia juga berharap pelatihan serupa dapat kembali dilaksanakan pada masa mendatang.

Melalui kegiatan ini, tim UNSRI berharap masyarakat dapat menerapkan teknologi penjernihan air berbasis biji kelor secara tepat serta mengembangkan olahan daun kelor menjadi produk pangan yang bermanfaat. Selain berpotensi menjadi alternatif camilan bergizi, Kelor Bites juga dapat dikembangkan sebagai peluang usaha masyarakat.

Pemanfaatan biji dan daun kelor dalam dua kegiatan tersebut menunjukkan bagaimana sumber daya lokal dapat diperkenalkan sebagai bahan pendukung solusi kebutuhan masyarakat, mulai dari pengolahan air baku hingga pengembangan produk pangan.

Bagikan

Berita Terbaru

Ketua dan Sekretais LPPM hadir dalam Upaca Peringatan DIES NATALIS ke 66
Berita

Ketua dan Sekretais LPPM hadir dalam Upaca Peringatan DIES NATALIS ke 66

SDGs
SDG 44Pendidikan BerkualitasSDG 1717Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
3
Menelusuri Jejak Peradaban Megalitik Pasemah, 67 Mahasiswa Unsri Gelar Riset di Pagaralam
Penelitian

Menelusuri Jejak Peradaban Megalitik Pasemah, 67 Mahasiswa Unsri Gelar Riset di Pagaralam

Sebanyak 67 mahasiswa dan 4 dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP Unsri menggelar Studi Proyek dan Riset pada 31 Oktober–1 November 2026 di Pagaralam. Kegiatan ini mengkaji peradaban megalitik Pasemah di Situs Tebing Tinggi, Belumai, dan Tegur Wangi bersama narasumber Mario Andramartik. Didukung Koordinator Prodi Dr. Hudaidah, M.Pd., hasil riset dikembangkan menjadi media pembelajaran sejarah berbasis teknologi digital guna mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas).

SDGs
SDG 44Pendidikan BerkualitasSDG 1111Kota dan Permukiman yang BerkelanjutanSDG 1717Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
0
Unsri Luncurkan Living Lab Bioenergi Ganesha, Olah Limbah Kelapa dan Sekam Padi Jadi Sumber Ekonomi Desa
Pengabdian

Unsri Luncurkan Living Lab Bioenergi Ganesha, Olah Limbah Kelapa dan Sekam Padi Jadi Sumber Ekonomi Desa

Tim Universitas Sriwijaya (Unsri) meluncurkan program Bioenergi Ganesha (Living Lab Bioenergi) di Desa Ganesha Mukti, Muara Sugihan, Banyuasin, pada Senin, 26 Oktober 2026. Program yang diketuai Mulyadi ini menerapkan konsep zero waste untuk mengolah limbah pertanian seperti tempurung kelapa, sabut, dan sekam padi. Melalui teknologi mesin cocopeat, pirolisis, briket, dan granul, limbah diubah menjadi energi serta produk biochar dan pupuk bernilai ekonomi bagi desa.

SDGs
SDG 77Energi Bersih dan TerjangkauSDG 88Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan EkonomiSDG 1212Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung JawabSDG 1515Ekosistem Daratan+1
0
Logo Universitas Sriwijaya
LPPM

Universitas Sriwijaya

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Sriwijaya

Tautan Cepat

Tautan Lainnya

Ikuti Kami

Informasi kontak belum tersedia

© 2026 LPPM Universitas Sriwijaya. Hak cipta dilindungi.